Kl1k (X) 2 Kali Untuk Menutup Popup Ini
Atau Sukai Fanspage Untuk Mendukung kami ×

Hakikat Manusia Menurut Islam, Pandangan Psikoanalisis, Behaviorisme, Kognitif, dan Humanisme

Ketika Mencari pengertian hakikat manusia melalui ilmu pengetahuan para ahli berusaha mendefinisikan sesuai dengan bidang kajian (Obyek Material) ilmu yang digelutinya dan sangat tergantung pada metodologi yang digunakan serta filosofi yang mendasari.

Hakikat Manusia Menurut Islam, Teori Psikoanalisis, Behaviorisme, Kognitif, dan Humanisme


HAKIKAT MANUSIA DALAM FALSAFAT

Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens (manusia berkeinginan). Menurut aliran ini Manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (Id), psikologis (ego, dan sosial (Superego), di dalam diri manusia terdapat unsur animal (hewan), rasional (akali(, dan moral (nilai).
Pandangan para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai ilmu mekanicus (manusia mesin). behavior lahir sebagai reaksi terhadap intropeksionisme (aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan subjektif) dan psikoanalisis (aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). behaviour menganalisis perilaku yang nampak saja. Menurut aliran ini segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.

Pandangan Para penganut teori kognitif menyebutkan manusia sebagai Homo sapiens (manusia berpikir). Menurut aliran ini manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berpikir. penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. padahal terpikir, memutuskan, menyatakan, memahami, dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.



Pandangan ara penganut teori humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens (manusia bermain). aliran ini mengecam psychoanalysis dan behaviorisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. keduanya tidak dapat menjelaskan eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta, kreativitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi. Menurut humanisme manusia berperilaku untuk mempertahankan, meningkatkan, dan mengaktualisasikan diri. Perdebatan mengenai Siapa manusia dikalangan para ilmuwan terus berlangsung dan tidak menemukan satu kesepakatan yang tuntas. manusia tetap menjadi misteri yang paling besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang.



HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM


Konsep manusia dalam Al Quran dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang saling menunjukkan pada makna manusia yaitu kata basyara, Insan, dan Al an-nas. Allah memakai konsep Basyar dalam al-quran sebanyak 37 kali salah satunya al-kahfi: 110 yaitu innama ana basyarun mistslukum ( Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu). Konsep basyar selalu dihubungkan pada sifat-sifat biologis manusia alasannya dari tanah liat atau lempung kering (al-Hijr:33; al-Rum:20), manusia makan dan minum (al-Mu'mimun:33). Basyar adalah makhluk yang hanya sekedar berada (being) yang statis seperti hewan.



Kata Insan dalam Alquran disebutkan sebanyak 65 kali di antaranya (al-alaq 5), yaitu: Allamal insaana maa lam ya'lam ( dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Konsep insan selalu dihubungkan pada sifat psikologis atau spiritual manusia sebagai makhluk yang berpikir, diberi ilmu, dan memikul imanah (al-Ahzab:72). Insan adalah makhluk yang menjadi (being) dan terus bergerak maju ke arah kesempurnaan.

Kata al-nas disebutkan sebanyak 240 kali,  seperti al-zumar:27, Walaqad dlarabna linnasi fi hadzal qurani min kulli matsal (Sesungguhnya telah kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam perempuan). Konsep al-nas menunjukkan pada semua manusia sebagai makhluk sosial secara kolektif. 

Demikian Alquran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan sosial. manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah sama dengan makhluk lain. manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembus roh allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah. Manusia memiliki Fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia. potensi yang dimiliki manusia dapat dikelompokkan pada dua hal, yaitu potensi fisik dan potensi rohaniah.

Potensi potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu sedangkan potensi rohaniah adalah akal qalbu dan nafsu akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio. Dalam Al Quran akal diartikan dengan kebijaksanaan intelegensi dan pengertian dengan demikian di dalam al-quran atau diletakkan bukan hanya pada ranah rasio tetapi juga rasa bahkan lebih jauh dari itu akal diartikan sebagai hikmah atau bijaksana.

Al-qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah, atau berbalik. Musa asy'ari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk bulat panjang terletak di dada sebelah kiri yang sering disebut dengan jantung. sedangkan arti yang kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia yang dapat menangkap segala pengertia,n berpengetahua, dan Arif.

Dengan demikian akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan alam, sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. keduanya merupakan kesatuan daya rohani untuk dapat memahami kebenaran, sehingga manusia dapat memasuki, suatu kesadaran tertinggi yang bersatu dengan kebenaran Ilahi.

Adapun nafsu (bahasa Arab Al-Hawa dalam bahasa Indonesia sering disebut hawa nafsu) adalah suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. dorongan-dorongan ini sering disebut dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. dengan nafsu manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. kecenderungan nafsu yang bebas jika tidak terkendali dapat menyebabkan Manusia memasuki kondisi yang membahayakan dirinya. untuk mengendalikan nafsu manusia menggunakan akalnya sehingga dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah tujuan yang jelas dan baik. agar manusia dapat bergerak ke arah yang jelas, maka agama berperan untuk menunjukkan jalan yang harus ditempuh nya. nafsu yang terkendali oleh akal dan berada pada jalur yang ditunjukkan agama disebut nafsu Mutmainnah yang diungkapkan Al Quran pada surat Al-Fajr: 27-30.
Dengan demikian manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrahnya dan mampu mengelola dan memajukan potensi akal, qalbu, dan nafsu nya secara harmonis.

HAKIKAT MANUSIA MENURUT PARA AHLI

Ibnu Sina yang terkenal dengan filsafat jiwanya menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan sekaligus makhluk ekonomi. Manusia adalah makhluk sosial, Untuk penyempurnaan jiwa manusia demi kebaikan hidupnya, Karena manusia tidak bisa hidup dengan baik tanpa adanya orang lain. dengan kata lain manusia baru bisa mencapai kepuasan yang memenuhi segala kepuasannya bila hidup berkumpul bersama manusia. Manusia adalah makhluk ekonomi, karena ia selalu memikirkan masa depannya dan menyiapkan segala sesuatu untuk masa depannya, terutama mengenai barang atau materi untuk kebutuhan jasmaninya. Hal ini dibuktikan dengan mengambil kisah adam yang diturunkan dari surga ke bumi karena ia memerlukan pangan dengan memakan buah khuldi.

Menurut pandangan Murtadha muthahhari Manusia adalah makhluk serba dimensi. Dimensi pertama secara fisik manusia hampir sama dengan hewan, membutuhkan makan, minum, istirahat, dan menikah, supaya ia dapat hidup, tumbuh, dan berkembang. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi yang bersifat etis, yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian. Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan. Dimensi keempat, manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan. Dimensi kelima, manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang berlipat ganda, karena dia dikaruniai akal pikiran dan kehendak bebas, sehingga ia mampu menahan hawa nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya. Dimensi keenam, manusia mampu mengenal dirinya sendiri. jika ia sudah mengenal dirinya, maka dia akan mencari dan ingin mengetahui siapa penciptanya, mengapa dia diciptakan, dari apa ia diciptakan, bagaimana proses penciptaannya, dan untuk apa ia diciptakan.

Demikian ulasan artikel kami terkait dengan Hakikat Manusia Menurut Islam, Teori Psikoanalisis, Behaviorisme, Kognitif, dan Humanisme yang kami rangkum. Semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung di blog kami semoga bermanfaat.

Sumber: Zaimina, B.A, dan Afif, U. 2014. Buku Pedoman Pendidikan Agama Islam (PAI) Politeknik Negeri Jember. Absolute Media; Yogyakarta