Kl1k (X) 2 Kali Untuk Menutup Popup Ini
Atau Sukai Fanspage Untuk Mendukung kami ×

Teori Pendekatan LFA (Logical Frame Work Analysis)

Pendekatan LFA (logical frame work analysis) adalah metode untuk mengetahui keinginan masa depan (visi masa depan) dan apa-apa yang menjadi impian bersama untuk lebih berkembang secara dinamis dan berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk merumuskan suatu alternatif strategi bagi para pihak (stakeholder’s) dalam berbagi peran ‘siapa’ akan berbuat ‘apa’ guna mencapai apa-apa yang menjadi impian bersama untuk lebih berkembang secara dinamis dan berkelanjutan.
Teori Pendekatan LFA (Logical Frame Work Analysis)

Logical frame work analysis (LFA), menurut German Goverenmental Cooperation (1996), adalah melakukan diskusi secara mendalam dengan para informan kunci (key informans) dalam sebuah kelompok diskusi yang terstruktur secara baik dan khusus membahas hal-hal yang menjadi pusat perhatian penelitian. Dimana didalam pelaksanaan FGD ada sejumlah dan/atau serangkaian prinsip yang seyognya dapat dipenuhi, diantaranya adalah: (a) menerima keterbatasan, (b) menerima perbedaan komitmen, (c) menyetujui aturan dan batasan, (d) menghindari jargon, (e) jujur, (f) transparan, (g) fleksibel, (h) raih apa yang direncanakan, (i) kontak komunikasi, (j) visi yang realistis, (k) skala pengelolaan yang efektif, (l) memberdayakan, (m) berpikir kreatif, (n) merencanakan dengan hati-hati (o) menciptakan suasana riang akan tetapi serius, serta (p) menghormati kultur lokal.

Baca Juga : Analisis Swot : Pengertian, Kuadrant, dan Matriks SWOT

Menerima keterbatasan. 

Pada dasarnya tidak ada aktivitas group diskusi yang berbasis masyarakat (komunitas) yang dapat menyelesaikan semua persoalan secara mutlak dan komperehensif. Akan tetapi hal tersebut bukanlah suatu alasan untuk tidak melaksanakannya. Keterbatasan dalam praktek  hampir  selalu  timbul  dalam  pelaksanaan  pemecahan   persoalan-persoalan yang dicarikan jalan pemecahannya dalam aktivitas group diskusi tersebut.

Menerima perbedaan komitmen

Sangatlah menguras energi jika mengeluhkan beberapa orang tidak berpartisipasi dalam proses diskusi yang dilakukan, dimana setiap individu yang terlibat memiliki prioritas kehidupan pribadi dan/atau kelompok dan hal ini harus selalu dihormati. Jika seseorang tidak ikut serta dalam proses, prisip positifisme menyatakan bahwa ia memberikan kesempatan kepada orang lain atau akan berpastisipasi pada kesempatan lain.


Menyetujui aturan dan batasan

Harus ada pemahaman bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam group diskusi, pada khususnya di lingkup komunitas, dimana terdapat ketakutan akan dominasi. Oleh karena itu maka sangatlah penting (vital) dibuat suatu peraturan dan batasan secara jelas, dimengerti, dan disetujui.

Menghindari jargon

Dipergunakan bahasa yang mudah  dimengerti dan sederhana. Harus dihindari bahasa jargon dan klise, karena dapat membuat orang lain malas untuk terlibat. Selain itu bahasa jargon seringkali menutup-nutupi kekurang-mampuan, mengabaikan hal lain, dan cenderung arogan. Jujur. Terbuka dan fokus pada proses diskusi yang sedang berlangsung, dimana orang akan antusias mengikuti proses ketika ia mengetahui apa yang mereka dapatkan dari hasil partisipasi mereka. Oleh karena itu harus dihindarkan adannya agenda-agenda tersembunyi.

Transparan

Aturan main dalam proses diskusi harus jelas dan transparan. Penggunaan nama peserta mungkin terlihat sepele, namun sangatlah penting untuk menghindari diskusi hanya menjadi sebuah ‘kerumunan’. Fleksibel. Dapat mengindari kekakuan dalam metode dan strategi diskusi, sehingga harus selalu siap menghadapi perubahan skenario proses.

Raih apa yang direncanakan

Ini merupakan sebuah frase yang biasa dikatakan oleh fasilitator, terutama oleh para partisipan dalam sebuah forum diskusi.  Oleh  karenanya  tidak  boleh  ada  keraguan  ketika  kita sudah merencanakan sesuatu. Kontak komunikasi. Hendaknya dipergunakan semua media komunikasi yang memunginkan diakses (dipergunakan) untuk menerangkan apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara mereka untuk terlibat.

Visi yang realistis 

Pada dasarnya tidak ada sesuatupun yang ingin dicapai tanpa ada sebuah pengharapan. Akan tetapi harapan yang tidak mungkin dicapai akan membuat frustasi. Oleh karena itu visi harus dibangun berdasarkan pilihan praktis yang bisa dikerjakan dan tersedia sumberdaya pendukungnya. 


Skala pengelolaan yang efektif

Hendaknya berproses di dalam komunitas diskusi dalam skala yang mudah dikelola, sehingga diantara partisipan saling mengenal satu sama lain. Jika komunitas besar, hendaknya area dipecah menjadi grup kecil-kecil.

Memberdayakan

Fasiltator harus melihat diri mereka sebagai tenaga pemberdayaan, dengan tugas membantu komunitas untuk mencapai tujuan mereka, dan bukan sebagai penyedia jasa layanan penyelesaian masalah. Berpikir kreatif. Salah satu prinsip yang mendasar dalam group diskusi komunitas adalah harus dapat dimengerti dan mudah untuk melakukan penyesuaian (improvisasi). Oleh karena itu seyogyanya dihindari perasaan untuk mengikuti aturan yang baku ataupun juklak juknis.


Merencanakan dengan hati-hati

Merencanakan secara hati-hati sangatlah vital. Oleh karena itu hendaknya dihindari menggunakan sebuah pendekatan ataupun ide satu orang. Hal yang harus dilakukan adalah mencermati beberapa altrenatif yang mungkin, sehingga perlu dibuat desain proses untuk mencocokan situasi yang mungkin terjadi.

Menciptakan suasana riang akan tetapi serius

Melakukan sebuah perencanaan dan bekerja dengan komunitas untuk kepentingan masyarakat tidak boleh dianggap pekerjaan yang membosankan. Akan tetapi harus dipandang bahwa hal ini merupakan kesempatan untuk bertemu dengan berbagai macam karakter yang menyenangkan. Oleh karena itu sangat diperlukan    hal-hal    yang    dapat    membuat suasana nyaman danmenyenangkan bagi semua orang yang terlibat, namun tetap serius pada  apa yang akan diraih dalam perencanaan yang dilakukan.

Menghormati kultur lokal

Harus benar-benar dipastikan bahwa pendekatan yang akan dilakukan sesuai dengan konteks kultural dimana proses itu berlangsung. Oleh karena itu harus dipertimbangkan permasalahan sikap terhadap isu gender, hubungan informal, pengelompokan sosial, cara bersikap di depan umum dan lain-lain.

Adapun data sekunder diperoleh dari intansi, dan/atau organisasi, dan/atau perusahaan, dan/atau lembaga, yang berkaitan. Yaitu berkaitan dan/atau berkepentingan dengan usaha pengembangan tembakau White Burley di wilayah Kabupaten Lumajang pada khususnya, maupun  di Indonesia dan/atau di Provinsi Jawa Timur pada umumnya.


Daftar Pustaka


German Governmental Cooperation. 1996. Model Pelatihan Logical Framework Analisys (LFA): Proyek Pengembangan Wilayah Rehabilitasi Lahan Kritis dan Perlindungan Sumberdaya  Alam dan Lingkungan Hidup. Padang: German Governmental Cooperation.

Mikkelsen, B. 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.