Kl1k (X) 2 Kali Untuk Menutup Popup Ini
Atau Sukai Fanspage Untuk Mendukung kami ×

Bentuk - Bentuk Wawancara Dalam Penelitian

Agar suatu wawancara tidak terjebak menjadi debat kusir yang tidak jelas arah dan tujuannya, maka wawancara harus memiliki tujuan dan harus memiliki bentuk. Wawancara dalam penelitian kualitatif ataupun wawancara lainnya pada umumnya terdiri dari tiga bentuk: wawancara tersetruktur, wawancara semi tersetruktur, dan wawancara tidak tersetruktur. Oleh karena itu pada kesempatan  kita akan mengulas tuntas tentang tiga bentuk wawancara dalam penelitian yang akan kita bahas satu persatu.

Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau penelitian kuantitatif, walaupun dalam beberapa situasi, wawancara tersetruktur juga dalam penelitian kualitatif. Wawancara bentuk ini sangat terkesan seperti interogasi karena sangat kaku, dan pertukaran informasi antara peneliti dengan subyek yang diteliti sangat minim. Dalam melakukan wawancara tersetruktur, fungsi peneliti sebagian besar hanya mengajukan pertanyaan dan subyek penelitian hanya bertugas menjawab pertanyaan saja. Terlihat adanya garis yang tegas antara peneliti dengan subyek penelitian. Selam proses wawancara harus sesuai dengan pedoman wawancara (guideline interview) yang telah dipersiapkan. Beberapa ciri-ciri wawancara terstruktur adalah sebagai berikut:

#1. Dafatar pertanyaan dan kategori jawaban terlah dipersiapkan
Dalam wawancara tersetruktur, daftar pertanyaan sudah tertulis dalam form pertanyaan serta dengan kategori jawaban yang telah disediakan. Biasanya dalam bentuk pedoman wawancara. Peneliti hanya tinggal membacakan pertanyaan yang telah tertulis, sementara subyek penelitian hanya tinggal menjawab sesuai dengan jawaban yang telah disediakan.

#2. Kecepatan wawancara terkendali
Karena jumlah pertanyaan dan jumlah pilihan jawaban sudah tersedia,dan kemungkinan jawaban yang akan diperoleh sudah dapat diperediksi, tentu saja waktu dan kecepatan wawancara dapat terkendali dan telah diperhitungkan sebelumnya oleh peneliti. Peneliti dapat melakukan simulasi terlebih dahulu sebelum melakukan wawancara, dan mencatat waktu yang dibutuhkan selama wawancara tersebut.

#3. Tidak ada fleksibilitas (pertanyaan atau jawaban)
Fleksibilitas terhadap pertanyaan atau jawaban hamper tidak ada. Peneliti tidak perlu lagi membuat pertanyaan lain dalam proses wawancara karena semua pertanyaan yang dibuat sudah disimulasikan terlebih dahulu dan biasanya sudah “fix” ketika turun kelapanga. Begitu juga dengan jawaban.

#4. Mengikuti Pedoman/Guideline Wawancara (dalam urutan pertanyaan, penggunaan kata dan kalimat, pilihan jawaban dan tidak improvisasi)
Pedoman wawancara mencakup serangkaian pertanyaan beserta urutannya yang telah diatur dan disesuaikan dengan alur pembicaraan. Tidak diperkenankan menggunakan Bahasa atau kata-kata yang tidak tertulis dalam pedoman wawancara.

#5. Tujuan wawancara biasanya untuk mendapatkan penjelasan tentang suatu fenomena
Wawancara tersetruktur biasanya digunakan dalam rangka untuk mendapatkan penjelasan saja dari suatu fenomena atau kejadian, dan bukan tujuan untuk memahami fenomena tersebut. Karena alasan tersbut biasanya wawancara terstruktur lebih sering digunakan dalam penelitian survey atau kuantitatif ketimbang penelitian kualitatif walaupun wawancara tersetruktur juga bias digunakan dalam penelitian kualitatif. 

Wawancara Semi Tersetruktur

Berbeda dengan wawancara tersetruktur yang sangat kaku, dan fleksibel, dan ada jarak yang dengan sengaja diciptakan antara peneliti dengan subyek yang diteliti, jenis wawancara tersebut sangat sesuai untuk penelitian kuantitatif, wawancara semi tersetruktur lebih tepat jika dilakukan pada penelitian kualitatif ketimbang penelitian lainnya. Salah satu alasan mengapa wawancara semi tersetruktur lebih tepat digunakan dalam penelitian kualitatif adalah karena peneliti diberi kebebasan sebebas-bebasnya dalam bertanya dalam memilih kebebasan dalam mengatur alur dan setting wawancara. Tidak hanya mengendalikan guideline wawancara sebagai pedoman penggalian data. Beberapa ciri-ciri wawancara tersetruktur adalah sebagai berikut:

#1. Pertanyaan terbuka, namun terdapat tema dan alur pembicaraan
Pertanyaan yang diajukan dalam wawancara semi tersetruktur adalah pertanyaan terbuka yang berarti bahwa jawaban yang diberikan oleh subyek penelitian/interviewee tidak dibatasi sehingga subyek dapat lebih bebas mengemukakan jawaban apapun sepanjang tidak keluar dari konteks pembicaraan.

#2. Kecepatan wawancara dapat diperediksi
Walaupun ada kebebasan dalam menjawab pertanyaan wawancara, tetapi kecepatan dalam waktu wawancara dapat diperediksi. kontrol waktu dan kecepatan wawancara ada pada keterampilan peneliti/interviewer dalam mengatur alur dan tema pembicaraan agar tidak melebar kearah yang tidak diperlukan.

#3. Fleksibel tapi terkontrol (dalam hal pertanyaan atau jawaban )
Meskipun peneliti diberikan kebebasan dalam mengajukan pertanyaan, namun fleksibilitas tersebut tergantung situasi dan kondisi serta alur pembicaraan. Karena sifatnya yang sangat natural, penelitian kualitatif sangat menjunjung kealamiahan setting wawancara. Wawancara sealamiah mungkin layaknya dua orang sahabat yang berbicara santai tentang suatu hal.

#4. Ada pedoman wawancara (yang dijadikan patokan dalam membuat pertanyaan wawancara yang disesuaikan dengan tema-tema yang telah dibuat)
Pedoman wawancara merupakan bagian yang sangat penting dalam wawancara semi tersetruktur. Pedoman wawancara berfungsi sebagai parameter, pedoman, patokan dalam membuat pertanyaan wawancara. Dalam pedoman wawancara terdapat tema-tema yang akan digali dan diungkap oleh peneliti kepada subyek penelitian. Pedoman wawancara juga berfungsi sebagai panduan dalam hal alur pembicaraan dan prediksi waktu wawancara.

#5. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui suatu fenomena
Tujuan wawancara semi tersetruktur adalah untuk mengetahui suatu fenomena  atau permasalahan tertentu. Karena tujuaannya adalah memahami suatu fenomena, maka bentuk wawancara semi tersetruktur sangat sesuai untuk penelitian kualitatif yang esensinya adalah untuk mendapatkan pemahaman dari suatu fenomena.

Wawancara tidak tersetruktur

Jenis wawancara yang ketiga adalah wawancara tidak tersetruktur. Hampir mirip dengan bentuk wawancara semi tersetruktur, hanya saja wawancara semi tersetruktur memiliki kelonggaran dalam banyak hal termasuk dalam pedoman wawancara. Salah satu kelemahan wawancara tidak tersetruktur adalah pembicaraan akan mudah menjadi “ngalor-ngidul” dengan batasan yang kurang tegas. Untuk sebuah penelitian kualitatif, kami tidak menyarankan untuk menggunakan wawancara jenis wawancara tidak tersetruktur karena kurang terfokus pada apa yang akan digali. Penggalian akan bersifat meluas, bukan mendala. Wawancara tidak tersetruktur lebih tepat digunakan dalam konteks wawancara santai dengan tujuan yang tidak terlalu terfokus, konteks talk-show, kontek seminar atau kualiah umum, dan konteks  lainnya yang bertujuan untuk mencari keluasan bahasam. Wawancara tidak tersetruktur memiliki ciri-ciri seperti dibawah ini.

#1. Pertanyaan yang diajukan bersifat sangat terbuka, jawaban subyek bersifat meluas dan bervariasi
Peneleliti dapat berimprovisasi sebebas-bebasnya dalam bertanya dengan membentuk pertanyaan yang sangat terbuka, hampir tidak ada pedoman yang digunakan sebagai kontrol. Demikian pula pada halnya dengan jawaban dan subyek/interviewee, dapat sangat luas bervariasi. Batasan pertanyaan pun tidak tegas sehingga sangat memungkinkan pembicaraan akan meluas. 

#2. Kecepatan wawancara sulit diprediksi
Layaknya mengobrol santai, kecepatan waktu wawancara lebih sulit diprediksi karena sangat tergantung dari alur pembicaraan yang kontrolnya sangat fleksibel dan lunak. Akhir dari wawancara tidak terstruktur juga terkadang tidak mendapatkan kesimpulan yang cukup jelas dan mengrucut.

#3. Sangat Fleksibel ( dalam hal pertanyaan maupun jawaban)
Pertanyaan yang diajukan oleh peneliti/interviewer dan jawaban yang diperoleh dari subyek penelitian/interviewee sangat fleksibel. Bahkan terkesan seperti ngobrol santai “ngalor-ngidul”. Jika peneliti yang memilih bentuk wawancara ini belum berpengalaman atau yang memiliki jam terbang yang kurang, maka akan mengalami kedala dalam merumuskan tema serta menarik kesimpulan wawancara.  Maka dari itu jika peneliti masih belum cukup pengalaman sebaiknya tidak menggunakan bentuk wawancara tidak terstruktur.

#4. Pedoman wawancara (guideline interview) sangat longgar urutan pertanyaan, penggunaan kata, alur pembicaraan, dan lain sebagainya.
Hampir sama seperti wawancara semi tersetruktur, dalam wawancara tidak terstruktur pedoman wawancara tetap masih diperlukan. Hanya saja, wawancara semi terstruktur, masih terdapat tema-tema yang dibuat sebagai kontrol atau pembicaraan yang mengacu pada satu tema sentral, pada pedoman wawancara tidak terstruktur tidak terdapat topik-topik yang mengatur alur pembicaraan, tetapi hanya terdapat tema sentral saja yang digunakan peneliti/interviewer sebagai kontrol alur pembicaraan selama wawancara berlangsung.

#5. Tujuan wawancara adalah untuk mengetahui suatu fenomena
Dalam hal tujuan, terdapat kesamaan dengan wawancara semi terstruktur yaitu untuk memahami suatu fenomena, hanya dalam kedalaman pembahasan dan pengendalian data tidak seakurat wawancara semi terstruktur sehingga bentuk wawancara semi terstruktur kurang sesuai untuk digunakan dalam penelitian kualitatif.

Demikian ulasan artikel terkait dengan “Bentuk-Bentuk Wawancara Dalam Penelitian Baik Kualitatif Maupun Kuantiatif” yang kami lansir dalam buku yang berjudul “Wawancara,Observasi, Dan Focus Groups” yang ditulis oleh haris hardiansyah pada tahun 2013 yang diterbitkan oleh Kharisma Putra Utama Offset di Jakarta. Semoga bermanfaat dan terima kasih.